Keledai atau Kedelai??

Image

Ungkapan yang begitu menggelitik, tapi ada baiknya kita belajar pada hewan keledai yang tidak pernah terperosok ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Sedangkan kedelai dulu hingga saat ini berlarut larut terus dalam permasalahan, yah memang beda! Yang seharusnya justru lebih baik kedelai ketimbang keledai karna kedelai dikelola oleh manusia yang mempunyai akal ketimbang hewan keledai yang tidak mempunyai akal.

Namun pada kenyataannya pemerintah amat sulit mengendalikan harga kedelai yang mengalami kenaikan sampai 60% dari harga semula Rp 5.000 per kilo gram menjadi 8.000 per kilo gram, terakhir ini langkah yang ditempuh pemerintah membebaskan bea masuk impor kedelai yang realisasinya hanya menurunkan harga kedelai Rp 400,00 dari harga Rp 8.000,00 per kilo gram menjadi Rp 7.600,00 per kilo gram di pasaran. Perlu menjadi catatan konsekuensi penghapusan bea masuk impor ini akan menurunkan pendapatan pajak pemerintah, padahal pajak sendiri menyumbang 70% dari APBN Indonesia.

Kenaikan harga kedelai terjadi bukan karena euphoria bulan Ramadhan, tetapi lebih disebabkan kelangkaan pemerintah dalam menyiasati pasokan kedelai. Kebutuhan kedelai skala nasional 2,2 juta ton per tahun. Sedangkan produksi dalam negeri 779.800 ton (35%), kekurangan sebesar 1.420.200 (65%) dipasok melalui impor, terbesar dari AS.

Kembali ke langkah pemerintah ini terkesan temporer saja karena pembebasan bea masuk impor kedelai berlaku sampai bulan desember 2012 dan seolah olah pemerintah ibarat “GONG” yang dipukul baru berbunyi. Pemerintah bertindak ketika sudah ada kejadian, tidak melakukan upaya mengantisipasi kelangkaan kedelai dalam jangka panjang. Dan ujung ujungnya pemerintah melalui Bapak Presiden mengatakan “saya prihatin”.

Alangkah lebih bijak ketika kita mengupayakan pemenuhan kebutuhan dalam negeri dari hasil dalam negeri pula. Saya rasa isu terkait dengan “ketahanan pangan” sudah ada sejak 2008, sekarang pertanyaan yang ada di benak saya dimana sarjana sarjana pertanian dari universitas terkemuka di Indonesia ini? Apa mereka lebih memilih kerja di sektor perbankan atau yang lain yang bukan chor mereka, lantas “ketahanan pangan” di Indonesia ini menjadi tanggung jawab siapa? Masyakarat indonesia pendapatan per kapita sudah sangat rendah ditambah untuk membeli kedelai yang termasuk makanan penuh dengan zat gizi pun sekarang harganya melangit.

Perlu diingat jika suatu urusan tidak dipegang oleh ahlinya, maka tunggulah kehancurannya, semoga ini menjadi renungan terutama saya, apa yang bisa saya berikan untuk negeri ini,

In-do-ne-sia

Written by damasmart

About damasmart

Traveling, Photography and Culinary Lover Motto Kembangkanlah kemampuanmu setinggi mungkin sehingga Tuhan pun akan berkonsultasi denganmu sebelum menentukan takdir-Nya untukmu Visi Menjadi pribadi yang sholeh dan bermanfaat (learning and teaching) Misi Mengambil yang baik2, dengan cara yang baik dan untuk menghasilkan yang terbaik Always aim high, strive to get there View all posts by damasmart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Book of Life

Write Your Own Story

Meilisa-Rosyadi

duniaku, duniamu . dunia kita :D

Taufiq_Qipot NgeBlog

" Ajarilah Anakmu Sastra! Agar ia menjadi Pemberani "

berhenti sejenak

Just another abu faqih's weblog

%d bloggers like this: