What makes a Leader

The best articel Harvard Business Review 1998

PENDAHULUAN

Kriteria seorang pemimpin yang ideal, banyak yang akan menekankan sifat-sifat seperti kecerdasan, ketangguhan, tekad, dan visi. Studi terbaru menunjukkan bahwa personal qualities juga penting, yang sering disebut “kecerdasan emosional”. Misalnya, dalam Studi tahun 1996 dari sebuah perusahaan makanan dan minuman global, di mana manajer senior memiliki tertentu kecerdasan emosional, divisi mereka mengungguli pendapatan tahunan sebesar 20%.

Daniel Goleman untuk pertama kalinya membawa istilah emotional intelligence untuk khalayak luas 1995, dan pertama kali diterapkan Goleman konsep untuk bisnis dengan artikelnya 1998 di Harvard Business Review. Dalam penelitiannya di hampir 200 besar, perusahaan global, Goleman menemukan bahwa kualitas tradisional dikaitkan dengan kepemimpinan seperti kecerdasan, ketangguhan, tekad dan visi yang diperlukan untuk sukses, tidaklah cukup. Pemimpin yang efektif menurut Goleman dibedakan oleh tingkat tinggi kecerdasan emosional, yang mencakup kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial.

Setiap pelaku bisnis menyadari suatu anggapan bahwa pentingnya memiliki intelligent tinggi, skill yang tinggi dalam menjadi seorang leader. Namun perlu juga kita sadari betapa pentingya emotional intelligence. Seorang pemimpin yang baik, tentunya harus menyadari akan pentingnya memiliki kesadaran yang tinggi tentang apa yang disebut emotional intelligence. Bukan berarti bahwa IQ dan technical skill tidak penting atau tidak relevan. Keduanya merupakan modal dasar sebagai seorang pemimpin, namun emotional intelligence tidak kalah pentingnya. Bahkan, terdapat hubungan yang erat antara emotional intelligence yang dimiliki seorang pemimpin dan keefektifan performa kinerja.

Dari hasil temuan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara  emosional intelligence dan performa yang efektif, terutama pada pemimpin. Dan akan dipaparkan bagaimana emotional intelligence sangat berperan dalam kepemimpinan organisasi. Emotional intelligence memainkan peran penting dalam level tertinggi sebuah perusahaan, di mana perbedaan pada technical skills sudah tidak terlalu penting. Semakin tinggi tingkatan seseorang, semakin perlu emotional intelligence capabilities ditonjolkan sebagai alasan keefektifan pemimpin. Emotional intelligence tidak hanya menciptakan seorang pemimpin yang luar biasa, tetapi juga berhubungan dengan performa yang kuat.

 

PEMBAHASAN

Kebanyakan perusahaan besar memiliki suatu rumusan yang dinamakan “competency models” di mana para karyawan dapat diidentifikasi, pelatihan dan promosi dirinya. Makalah ini mengenai personal capabilities yang menndorong performa yang baik di dalam organisasi.

Terdapat 3 kategori capabilities: purely technical skills (accounting, business planning), cognitive abilities (analytical reasoning), competencies demonstrating emotional intelligence ( ability to work with others, effectiveness in leading change). Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa intelektual merupakan kemudi dalam mewujudkan performa yang baik. Meskipun cognitive skills merupakan hal yang sangat penting, namun emotional intelligence dua kali lebih penting daripada hal yang lainnya. Emotional intelligence memainkan peran penting dalam level tertinggi sebuah perusahaan, di mana perbedaan pada technical skills sudah tidak terlalu penting. Semakin tinggi tingkatan seseorang, semakin perlu emotional intelligence capabilities ditonjolkan sebagai alasan keefektifan pemimpin. Emotional intelligence tidak hanya menciptakan seorang pemimpin yang luar biasa, tetapi juga berhubungan dengan performa yang kuat.

Terdapat lima komponen dari emotional intelligence. Kelima komponen ini akan dipaparkan sebagai berikut:

  1. 1.   Self Awareness

Self awareness yang dimaksud adalah pemimpin memiliki perasaan mendalam atas perasaan seseorang, kekuatan, kelemaham, kebutuhan dan tuntunan. Seseorang yang memiliki tingkat self awareness yang tinggi dapat mengenali bagaimana perasaannya mempengaruhinya, orang lain dan performa pekerjaan mereka. Orang lain dengan tingkat self awareness yang tinggi dapat pula bekerja dengan klien yang banyak memiliki permintaan. Self awareness mendorong pengertian seseorang untuk dapat meningkatkan nilainya dan tujuan-tujuan yang ingin diraihnya. Bagaimana seseorang dapat mengenali self awareness? Pertama, hal ini ditunjukkan dengan keterusterangan dan kemampuan untuk menilai dirinya secara realistik. Seseorang dengan tingkat self awareness yang tinggi dapat berbahasa akurat dan terbuka meskipun tidak perlu dilebih-lebihkan atau diakui mengenai perasaan mereka dan akibatnya pada pekerjaan. Selanjutnya adalah kepercayaan diri dari seorang pemimpin.

  1. 2.      Self Regulation

Self regulation mendekati seperti sebuah percakapan yang berkelanjutan dari dalam diri, yang merupakan bagian dari emotional intelligence yang membebaskan kita dari penjara perasaan. Pemimpin menghubungkan perasaan bad mood dan emotional impulses seperti orang lainnya, namun mereka memiliki cara untuk mengontrolnya dan bahkan memanfaatkannya. Mengapa self regulation sangat penting bagi seorang pemimpin? (a) Seseorang yang dapat mengontrol perasaan mereka dan dorongan dalam diri, mampu menciptakan lingkungan yang terpercaya dan adil (b) Self regulation merupakan sebuah alasan yang kompetitif karena seseorang yang memiliki kontrol emosi yang tinggi dapat memanfaatkan kesempatan. Tanda-tanda emotional self regulation: (1) kecenderungan untuk intropeksi diri dan perhatian (2) nyaman dengan ketidakpastian dan perubahan (3) integritas

  1. 3.      Motivation

Seorang pemimpin dituntun untuk meraih di atas ekspektasi dirinya dan orang lain. Pemimpin dengan motivasi yang tinggi memiliki keinginan yang kuat untuk meraih sebuah prestasi. Bagaimana caranya mengidentifikasi seseorang di mana ia termotivasi dengan prestasi? Tanda pertama adalah passion dalam bekerja, seperti orang yang mencari tahu kesempatan yang kreatif, menyukai pembelajaran dan bangga dengan pekerjaannya yang telah diselesaikan. Para eksekutif yang  memiliki  motivasi dalam sebuah prestasi dapat dikenali dengan komitmennya terhadap organisasi. Ketika seseorang mencintai pekerjaannya, ia akah merasa komitmen dengan organisasinya.

  1. 4.      Emphaty

Bagi pemimpin, hal ini bukan berarti mengadopsi perasaan seseorang dan mencoba untuk membahagiakan semua pihak. Empati berarti mendalami dan mempertimbangkan perasaan karyawan, dengan faktor-faktor lainnya di dalam proses membuat keputusan. Empati sendiri merupakan komponen yang sangat penting karena tiga alasan berikut: (a) the increasing use of team, (b) rapid pace of globalization (c) the growing need to retain talent.

  1. 5.      Social Skill

Social skill memiliki tujuan yaitu menggerakkan orang untuk mengikuti perintah yang diinginkan oleh pemimpin, apakah hal tersebut merupakan sebuah strategi marketing yang baru atau gairah dalam mengembangkan produk baru. Social skill merupakan puncak dari dimensi emotional intelligence. Karena itu, social skill dikenal di semua jenis pekerjaan sehingga terdengar sangat familiar pada saat ini, Mengapa social skill sangat penting dalam kepemimpinan? Karena seorang pemimpin yang dapat memotivasi menjadi tidak berguna apabila ia tidak dapat mengkomunikasikan maksud dan passionnya dalam organisasi. Social skill juga memberikan kontibusi kepada pemimpin untuk mewujudkan emotional intelligence pada pekerjaannya.

The Five Components of Emotional Intelligence at Work

Difinition Hallmark
Self-Awareness the ability to recognize and understand your moods, emotions, and drives, as well as their

effect on others

-self-confidence

-realistic self-assessment

-self-deprecating sense of humor

Self-Regulation the ability to control or redirect disruptive impulses and moods the propensity to suspend judgment – to think before acting -trustworthiness and integrity

-comfort with ambiguity

-openness to change

Motivation a passion to work for reasons that go beyond

money or status a propensity to pursue goals with energy and persistence

-strong drive to achieve

-optimism, even in the face of failure

-organizational commitment

Empathy the ability to understand the emotional makeup of other people skill in treating people according to their emotional reactions -expertise in building and retaining talent

-cross-cultural sensitivity

-service to clients and customers

Social Skill proficiency in managing relationships and building networks an ability to find common ground and build rapport -effectiveness in leading change

-persuasiveness

-expertise in building and leading teams

Dapatkah Kecerdasan Emosional Dipelajari?

Bertahun-tahun, orang telah memperdebatkan apakah pemimpin itu dilahirkan atau diciptakan. Demikian juga pergi perdebatan tentang emotional intelligence. Apakah orang yang lahir dengan tingkat empati tertentu, misalnya, atau apakah mereka mendapatkan empati sebagai hasil dari pengalaman hidup? Jawabannya adalah keduanya. Penyelidikan ilmiah sangat menunjukkan bahwa ada komponen genetik untuk kecerdasan emosional. Psychological and developmental research menunjukkan bahwa didikan berperan sama baiknya. Berapa banyak dari masing-masing mungkin tidak akan pernah diketahui, tetapi penelitian dan praktek jelas menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dapat dipelajari.

Satu hal yang pasti: Kecerdasan emosional meningkat dengan bertambahnya usia. Ada kata kuno sebuah fenomena: maturity. Yet even with maturity, some people still need training to enhance their emotional intelligence. Sayangnya, program pelatihan terlalu banyak berniat untuk membangun keterampilan kepemimpinan, termasuk kecerdasan emosional, adalah buang-buang waktu dan uang. Masalahnya sederhana: Mereka fokus pada bagian yang salah dari otak. Kecerdasan emosional lahir terutama dalam neurotransmitter dari sistem limbik otak, yang mengatur perasaan, impuls, dan kendali. Penelitian menunjukkan bahwa sistem belajar limbik terbaik melalui motivasi, praktek yang panjang, dan umpan balik. Bandingkan dengan jenis pembelajaran yang terjadi di neokorteks, yang mengatur kemampuan analisis dan teknis.

Untuk meningkatkan kecerdasan emosional, organisasi harus memfokuskan pelatihan mereka untuk memasukkan sistem limbik. Mereka harus membantu orang menghentikan kebiasaan perilaku lama dan membuat yang baru. Itu tidak hanya membutuhkan waktu lebih dari program pelatihan konvensional, hal itu juga memerlukan pendekatan individual. Bayangkan seorang eksekutif yang dianggap rendah pada empati dengan rekan-rekannya. Bagian dari defisit yang menunjukkan dirinya sebagai ketidakmampuan untuk mendengarkan, ia menyela orang dan tidak memperhatikan apa yang mereka, katakan. Untuk memperbaiki masalah, eksekutif perlu termotivasi untuk berubah, dan kemudian dia membutuhkan latihan dan umpan balik dari orang lain di perusahaan. Seorang kolega atau pelatih bisa dimanfaatkan untuk membiarkan eksekutif tahu ketika dia telah diamati gagal untuk mendengarkan. Dia kemudian harus memutar ulang insiden tersebut dan memberikan respon yang lebih baik, yaitu, menunjukkan kemampuannya untuk menyerap apa yang dikatakan orang lain. Dan eksekutif dapat diarahkan untuk mengamati eksekutif tertentu yang mendengarkan dengan baik dan untuk meniru perilaku mereka.

 

Tokoh yang memiliki Emotional Intelligence

Ir. H. Joko Widodo

Self-Awareness
  1. Pemimpin yang percaya diri
  2. Terbuka dan jujur dalam menilai diri sendiri
Percaya diri dari seorang pengusaha sekarang terpilih menjadi gub DKI, mengakui kekurangannya ketika ada masalah dengan gubernur jateng
Self-Regulation
  1. Terbuka dengan perubahan
  2. Mampu bekerja dibawah tekanan
Kebijakan yang pro perubahan (kemudahan investasi), mampu menghadapi tekanan isu sara dll
Motivation
  1. Passion yang kuat dan optimis dalam pencapaian kerja
Pantang menyerah dalam meloloskan uji emisi mobil Esemka
Empathy 1. Kebijakam pro rakyat miskin Kebijakan pengalokasian pedagang kaki lima tanpa ricuh
Social Skill 1. Persuasive dan mempunyai manajemen sosial Mensinergikan kalangan pengusaha, pemerintah dan rakyat.

Merakyat sehingga dicintai rakyatnya.

 

KESIMPULAN

Meskipun IQ, intelligence ability dan technical ability dipandang penting, namun semua ini akan lebih lengkap dengan adanya emotional intelligence. Demi kepentingan organisasi, emotional intelligence merupakan hal yang harus dimiliki oleh seorang  pemimpin. Dan untungnya, kemampuan emotional intelligence ini dapat dipelajari. Namun prosesnya tidaklah mudah. Hal ini memerlukan waktu yang cukup lama, dan lebih dari semua itu adalah sebuah komitmen. Namun keuntungan akan segera diraih dengan memiliki emotional intelligence yang baik, tidak hanya bagi diri sendiri namun juga bagi organisasi, dan membuatnya layak untuk diperjuangkan.

Daftar Pustaka

Goleman, Daniel.1998.What makes a leader. America: Harvard Business Review

written by damasmart & team

About damasmart

Traveling, Photography and Culinary Lover Motto Kembangkanlah kemampuanmu setinggi mungkin sehingga Tuhan pun akan berkonsultasi denganmu sebelum menentukan takdir-Nya untukmu Visi Menjadi pribadi yang sholeh dan bermanfaat (learning and teaching) Misi Mengambil yang baik2, dengan cara yang baik dan untuk menghasilkan yang terbaik Always aim high, strive to get there View all posts by damasmart

5 responses to “What makes a Leader

  • Faeeza Fadel

    Assalamualaikum salam ukhuwan dari Malaysia,🙂
    Saya suka sekali membaca artikel ini. Saya pohon agar saudara bisa menulis artikel mengenai What Makes a Leader dari segi Spiritual pula.
    Terusan menulis, penulisan dari insan semuda saudara amat dikagumi.

  • damasmart

    Wa’alaykumsalam warohmatullahi wabarokatuh.
    Salam ukhuwah dari muslim Indonesia, trimakasih atas kunjungannya. Penulisan artikel what makes a leader ini karena tugas kuliah yang memberi batasan pada emotional intelligent, insyaallah do’anya bisa menulis lebih baik dan inspiratif lagi..

  • pangastutirembang

    “subhanallah, anakku makin pinter – lahir batin -” begitu guman ibu klo beliau bisa membuka blog ini sendiri……………Semoga Allah memberkahi setiap jengkal langkahmu, nak. Amiiinn.

  • damasmart

    Aamiin Bunda, i just need support and petitions from my mother at home and please keep your fingers for me too😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Book of Life

Write Your Own Story

Meilisa-Rosyadi

duniaku, duniamu . dunia kita :D

Taufiq_Qipot NgeBlog

" Ajarilah Anakmu Sastra! Agar ia menjadi Pemberani "

berhenti sejenak

Just another abu faqih's weblog

%d bloggers like this: