Perlukah Tax Amnesty?

Isu terhangat akhir-akhir ini pembicaraan hampir semua media membicarakan tentang Pro dan Kontra tentang Tax Amnesty. Tax amnesty (TA) sejatinya sudah ada di jamannya soeharto 1984 yg dibarengi dgn reformasi pajak (pergantian sistem dari official assessment berganti self assessment), TA ini dinyatakan gagal karena pada orde tersebut tulang punggung penerimaan negara ada di sektor migas,

TA kedua dilakukan di th 2008, yang dibarengi dengan revisi UU KUP, PPN, PPh (modernisasi sistem perpajakan), dikatakan berhasil hanya karena tercapainya target penerimaan pajak th 2008, tapi tahun-tahun berikutnya sampai dengan 2015 penerimaan selalu meleset, pertumbuhan ekonomi tak kunjung tercapai.

Nah artinya TA dlm konteks ini tidak berpengaruh terhadap penerimaan negara dalam tahun berikutnya, hanya berpengaruh tahun yg bersangkutan, dari segi tax ratio, GDP, pertumbuhan ekonomi, indeks gini, dll bagaimana? Tdk ada jaminan TA akan menjamin peningkatan kesejahteraan rakyat.

Dari sesi keadilan akan dirasa tidak adil untuk Wajib Pajak yg selalu Patuh memenuhi kewajiban perpajakannya. Kenapa yg mendapatkan pengampunan pajak  (apresiasi) justru malah para penghindar pajak? bahkan para koruptor? (baca RUU Tax Amnesty)

Lalu, apakah ada jaminan ekonomi indonesia akan tumbuh dgn TA? Apa Indonesia akan menjadi negara maju ketika mengesahkan RUU TA? Ketika TA tidak dibarengi dengan revisi UU KUP, PPh, PPN, bahkan UU Perbankan seperti kata Yustinus Prastowo.

Kalau ada yang berpendapat untuk mendapatkan ikan yang besar dengan TA, justru menurut saya langkah yang diambil pemerintah justru law enforcement, penegakan hukum yang adil akan lebih efektif untuk memancing repatriasi dana ke indonesia, dari pada TA yang justru pemerintah kehilangan kewibawaannya dan tentunya potensi pajak menjadi hilang karna TA tersebut.

Lebih baik, perbaiki sistem perpajakan dulu seperti kata Yustinus Prastowo dan Sri Mulyani ketimbang memberikan TA,

Terakhir pemerintah Jokowi seolah-olah ingin dicitrakan pro terhadap investasi, pencapaian tehadap target penerimaan pajak tahun 2016 terpenuhi, dll. Padahal masalah substansinya adalah sistem perpajakan, kelembagaan DJP, revisi UU KUP, benturan pasal 35 UU KUP dan UU Perbankan, UU PPh, Tax Treaty, dll.

Salam kritis,
Damas Dwi Anggoro, S.AB, M.A.


BEPS: Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Hilangnya Pajak

Pertumbuhan ekonomi dunia

Kondisi perekonomian dunia diprediksikan mulai membaik. Setelah melewati perlambatan pertumbuhan ekonomi pada 2014, negara-negara berkembang akan mulai tumbuh tahun 2015 disebabkan karena rendahnya harga minyak, menguatnya ekonomi Amerika, suku bunga global yang rendah dan berkurangnya tekanan domestik di sebagian negara-negara berkembang.[1] Setelah tumbuh sebanyak 2,6 persen pada 2014, ekonomi global diperkirakan akan tumbuh sebesar 3 persen tahun ini, 3,3 persen di tahun 2016 dan 3,2 persen di tahun 2017. Negara-negara berkembang akan tumbuh sekitar 4,4 persen pada 2014 dan bisa naik ke angka 4,8 persen pada 2015, kemudian menguat ke angka 5,3 persen dan 5,4 persen pada 2016 dan 2017.[2]

Tabel 1. The Global Outlook in Summary

World GDP

Sumber : World Bank 2015

Notes: e = estimate; f = forecast

  1. Aggregate growth rates calculated using constant 2010 U.S. dollars GDP weights.
  2. In keeping with national practice, data for Bangladesh, Egypt, India, and Pakistan are reported on a fiscal year basis in table 1.1. Aggregates that depend on these countries are calculated using data compiled on a calendar year basis.
  3. Real GDP at factor cost, consistent with reporting practice in Pakistan and India.

Perbaikan ekonomi dunia yang berlangsung secara perlahan, terdapat beberapa tren berbeda yang memiliki berbagai implikasi terhadap pertumbuhan global. Negara Amerika Serikat dan Inggris mulai meraih momentum bersamaan dengan pasar tenaga kerja yang mulai membaik dan kebijakan moneter yang masih sangat akomodatif. Tapi belum ada perbaikan yang cukup berarti di Eropa dan Jepang, karena kerusakan akibat krisis ekonomi yang lalu. Di sisi lain, Cina kini sangat berhati-hati mengawal pelemahan pertumbuhan ekonominya, yakni sebesar  7,1 persen tahun ini (7,4 persen pada 2014), 7 persen pada 2016 dan 6,9 persen pada 2017.[3] Kondisi ini masih ditambah dengan jatuhnya harga minyak yang sudah pasti akan merugikan sekaligus menguntungkan sejumlah pihak.

Risiko-risiko yang ada membuat proyeksi ke depan masih cenderung menurun, akibat empat faktor.[4] Pertama adalah perdagangan global yang masih lemah. Kedua, kemungkinan guncangan pada pasar finansial seiring dengan naiknya suku bunga pada beberapa negara maju di waktu yang berbeda-beda. Ketiga adalah seberapa jauh harga minyak yang rendah menggoyang keseimbangan finansial negara-negara produsen minyak. Keempat, risiko dari periode stagnan atau deflasi di wilayah Eropa atau Jepang yang berlangsung lama. Menurut Kaushik Basu, Senior Vice President and Chief economist at the World Bank :

“Wooryingly, the stalled recovery in some high-income economies and even some middle-income countries may be a sympotom of deeper stuctural malaise,but there are some silver linings behind the clouds. The lower oil price creates a window of oppurtunity for oil-importing countries, such as China and India. What is critical is for national to use this windows to usher in fiscal and stuctural reforms, which can boost long-run growth and inclusive development.”

Pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju akan tumbuh perlahan. Pasar tenaga kerja yang mulai membaik, pengetatan dana yang berkurang, harga komoditas yang lemah dan pasar finansial yang masih rendah mengakibatkan pertumbuhan di negara-negara maju akan tumbuh perlahan pada angka 2,2 persen pada 2015 (dari 1,8 persen pada 2014) dan pada angka sekitar 2,3 persen pada 2016-2017.[5] Pertumbuhan di Amerika Serikat diharapkan mencapai 3,2 persen pada 2015 (dari 2,4 persen pada 2014), sebelum bertahan antara 3 dan 2,4 persen pada 2016 dan 2017 secara berurutan. Di wilayah Eropa, inflasi yang rendah justru menjadi tidak produktif. Proyeksi untuk wilayah Eropa berada di angka 1,1 persen untuk 2015 (dari 0,8 persen pada 2014) dan naik menjadi 1,6 persen pada 2016 dan 2017. Di Jepang, pertumbuhan akan mencapai 1,2 persen pada 2015 (dari 0,2 persen pada 2014) dan 1,6 persen pada 2016.[6]

Arus perdagangan diperkirakan masih lemah pada 2015. Sejak krisis finansial global, perdagangan global telah menurun secara signifikan, hanya tumbuh kurang dari 4 persen pada 2013 dan 2014, jauh di bawah pertumbuhan rata-rata sebelum krisis yaitu sebesar 7 persen per tahun. Berdasarkan laporan GEP (Global Economic Prospects), pertumbuhan yang lemah ini disebabkan oleh rendahnya permintaan dan berkurangnya sensitivitas perdagangan dunia dalam merespon perubahan-perubahan yang terjadi dalam aktivitas global. Perubahan dalam rantai nilai global (global value chains) dan perubahan komposisi permintaan impor bisa jadi telah berkontribusi pada rendahnya pertumbuhan perdagangan global.

Harga komoditas diperkirakan akan tetap rendah sepanjang 2015. Jatuhnya harga minyak yang di luar kebiasaan pada paruh kedua tahun 2014 bisa mengurangi tekanan inflasi secara signifikan dan memperbaiki transaksi berjalan dan perimbangan fiskal di negara-negara berkembang pengimpor minyak. Menurut Ayhan Kose, Director of  development prospects at the World Bank :[7]

“Lower oil prices will lead to sizeable real income shifts from oil-exporting to oil-importing developing countries. For both exporters and importers, low oil prices present an opportunity to undertake reforms that can increase fiscal resources and help broader environmental objectives,”

Negara-negara berpendapatan menengah yang bisa mendapat keuntungan dari jatuhnya harga minyak. Negara India pertumbuhannya diharapkan mencapai 6,4 persen pada tahun 2015 (dari 5,6 persen pada 2014) dan menanjak ke 7 persen untuk 2016 dan 2017. Di Brazil, Indonesia, Afrika Selatan dan Turki, jatuhnya harga minyak akan membantu mengurangi inflasi dan mengurangi defisit transaksi berjalan yang biasanya menjadi sumber kelemahan bagi negara-negara tersebut. Bagaimana pun, rendahnya harga minyak akan memperlemah aktivitas di negara-negara eksportir. Sebagai contoh, ekonomi Rusia akan tumbuh sekitar 2,9 persen pada 2015, kemudian kembali ke zona positif pada 2016 dengan proyeksi pertumbuhan 0,1 persen.[8]

Berbeda dengan negara-negara berpendapatan menengah, aktivitas ekonomi di negara berpendapatan rendah justru menguat pada 2014 didukung oleh peningkatan investasi sektor publik, perluasan sektor jasa secara siginifikan, dan banyaknya dana yang masuk. Pertumbuhan di negara berpendapatan rendah diharapkan tetap kuat sebesar 6 persen pada 2015 sampai 2017, meskipun rendahnya harga minyak dan komoditas akan menahan laju pertumbuhan ini khususnya bagi negara-negara berpendapatan rendah pengekspor komoditas. Menurut Franziska Ohnsorge, Lead Author of Global Economic Prospects report :[9]

“Risks to the global economy are considerable. Countries with relatively more credible policy frameworks and reform-oriented governments will be in a better position to navigate the challenges of 2015,”

Pertumbuhan ekonomi Indonesia

Perekonomian Indonesia pada dekade terakhir menunjukkan perkembangan yang baik meskipun perekonomian global mengalami ketidak-pastian dan banyak negara yang masih harus berupaya keras untuk keluar dari imbas krisis ekonomi global. Namun tak dapat dipungkiri bahwa kinerja perekonomian nasional tahun 2013 dan 2014 mulai melambat bila dibandingkan periode tahun 2012.

Perlambatan tersebut tidak terlepas dari situasi perekonomian global yang masih dibayang-bayangi berbagai ketidakpastian, seperti prospek pemulihan ekonomi di Eropa (terutama negara yang mengalami krisis hutang, seperti: Yunani, Italia, Portugal dan Spanyol) dan ancaman jurang fiskal (fiscal cliff) di AS akibat perbedaan kepentingan antara Pemerintahan dengan Kongres terkait strategi kebijakan untuk meningkatkan penerimaan negara dari pajak, efisiensi pengeluaran negara untuk perlindungan sosial dan kesehatan (Obamacare), serta batasan hutang dan defisit anggaran pemerintah AS, yang sempat mengakibatkan penutupan sementara aktivitas pemerintahan federal (government shut down).

Kondisi perekonomian tersebut telah berimbas pada penurunan permintaan eksternal dan perlambatan aktivitas perekonomian di Asia, termasuk China dan India. Bahkan wacana Bank Sentral AS (the Fed) untuk mengurangi program stimulus moneter pembelian obligasi negara (quantitative easing tapering) yang dikemukakan sejak pertengahan tahun 2013 telah mendorong arus modal berbalik dari negara emerging market ke negara maju, sehingga laju perekonomian negara berkembang lebih lambat dibanding pertumbuhan di negara maju.

Trend pertumbuhan ekonomi di ASEAN negara Singapura memiliki tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 6,55%, namun fluktuasinya sangat tinggi dari -1,3% (2009) hingga 14,7% (2010), sebagaimana terlihat dalam tabel 2. Demikian pula halnya dengan Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam yang terkena imbas krisis global tahun 2009, sehingga turut mengalami pertumbuhan yang minus. Sedangkan pertumbuhan Vietnam meski menunjukkan tingkat yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia pada periode 2002-2010, namun terlihat mulai mengalami overheating dan melambat pertumbuhannya sejak tahun 2011.
Tabel 2 Pertumbuhan Ekonomi di ASEAN (2002-2012)

Pertumbuhan ekonomi di ASEAN 2002-2012

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri dalam 10 tahun terakhir (2002-2012), stabil dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 6,11%. Tingkat pertumbuhan sejak tahun 2007 hingga 2012 hampir selalu di atas 6% dengan pengecualian pada tahun 2009 (4,6%), dan mulai menurun di tahun 2013 5,8% dan tahun 2014 sebesar 5,1%, sejalan dengan terjadinya krisis ekonomi global akibat kegagalan sektor kredit properti (subprime mortgage crises), dimana sebagian besar negara bahkan mengalami pertumbuhan minus.
         Gambar 1 : The East Asia and Pacific (EAP) Growth

East Asia and Pacific Growth

Perlambatan ekonomi Indonesia di tahun 2014, sebagaimana terlihat dalam Gambar 1 ditambah dengan nilai tukar rupiah terus melemah yang berkisar pada Rp 13.000 per satu dolar AS, merupakan titik terendah selama hampir 17 tahun. Hal ini mengakibatkan target pertumbuhan ekonomi 2015 sekitar 5,7% sulit tercapai. Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak terlepas dari situasi perekonomian global. Beberapa faktor diyakini penyebab pelemahan kurs rupiah antara lain membaiknya perekonomian di Amerika Serikat serta ketidakpastian waktu penyesuaian suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS (The Fed), pelebaran defisit neraca transaksi berjalan dan gejolak politik nasional yang belum reda pasca pemilihan umum.[10]

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika direspon oleh pemerintah dengan mengeluarkan 6 paket kebijakan.

  1. Pemberian tax allowance bagi perusahaan yang menahan devidennya dan melakukan reinvestasi.
  2. Bea Masuk Anti-Dumping untuk impor.
  3. Pembebasan visa bagi wisatawan asing.
  4. Kewajiban pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) sebanyak 15% untuk solar.
  5. Kewajiban menggunakan letter of credit (L/C) untuk produk-produk sumber daya alam.
  6. Pembentukan perusahaan reasuransi domestik.

Enam langkah kebijakan pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi menyusul terus merosotnya rupiah dan defisit transaksi berjalan dinilai sulit terealisasi dalam jangka waktu pendek ini. Menurut Direktur Intitute Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati :[11]

“Beberapa langkah kebijakan pemerintah itu nampak sulit terealisasi dalam jangka pendek ini. Misalnya, kebijakan bea masuk anti-dumping. Kebijakan itu akan lama terealisasi karena pembuktian anti-dumpng dinilai membutuhkan waktu yang lama.”

Kebijakan Bea Masuk Anti-Dumping dimaksudkan untuk mengendalikan impor. Namun, dampak kebijakan itu akan berlangsung lama terhadap rupiah dan transaksi berjalan karena Bea Masuk Anti-dumping lama pembuktiannya. Ketika pemerintah bertujuan jangka menengah untuk mengendalikan impor, justru yang harus dituju adalah penguatan industri substitusi impor.

Langkah pemerintah mewajibkan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel sebanyak 15 persen untuk solar dinilai kurang tepat. Menurut Direktur Intitute Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati :[12]

“Sebenarnya kebijakan mewajibkan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel adalah kebijakan yang baik, sayang momentumnya tak tepat. Saat ini harga BBM sedang berada pada titik penurunan sehingga harga BBM pun menjadi rendah. Hal inilah yang dinilai akan membuat investor tak akan tertarik berinvestasi di sektor energi biofuel.”

Kebijakan pemberian tax allowance memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang yang bagus. Dikarenakan memang banyak perusahaan besar di Indonesia, di berbagai bidang, seperti pertambangan, perkebunan, rokok, konstruksi, telekomunikasi dan lain-lain yang mayoritas dimiliki oleh perusahaan asing. Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan uang dividen yang biasanya ditarik oleh perusahaan asing, dapat di investasikan kembali di Indonesia. Seperti menurut Direktur Intitute Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati :[13]

Pemberian tax allowance untuk perusahaan yang menginvestasikan dividen di Indonesia, perusahaan yang ciptakan lapangan kerja, perusahaan yang berorientasi ekspor, menarik  untuk para investor terutama untuk penundaan repatriasi devisa. Insentif ini akan sangat signifikan terhadap permintaan dollar karena memang salah satu kontributor pertama kita adalah soal repatriasi devisa.

Pilihan untuk memilih antara kebijakan pajak yang bersifat incentive maupun disincentive pada dasarnya selaras dengan pemerintah untuk menentukan sektor-sektor mana yang ingin didorong untuk berkembang atau kebalikannya.[14] Karena itu penting bagi pemerintah untuk merumuskan kebijakan insentif pajak bukan hanya berdasarkan permintaan pelaku ekonomi atau keinginan investor, tetapi berdasarkan kepentingan bangsa dan negara. Dengan demikian, kebijakan insentif pajak seharusnya didesain sejalan dengan program pembangunan ekonomi nasional.

Target penerimaan pajak 2015

Pemerintah tetapkan kebijakan penerimaan dalam RAPBN-P 2015 sebesar Rp 1.484 triliun. Sebelumnya, dalam APBN 2015, target penerimaan pajak hanya sebesar Rp 1.380 triliun. Dengan demikian, target penerimaan perpajakan dalam RAPBN-P 2015 mengalami peningkatan sekitar Rp 109,3 triliun. Walaupun jarang mencapai target penerimaan pajak pemerintah dan DPR telah menyepakati suatu target yang cukup optimis. Target penerimaan negara menurut RAPBN-P sebesar Rp 1.768 triliun, dimana sekitar 84% (Rp 1.484 ) berada di bawah tanggung jawab DJP dan DJBC.

 Gambar 2. Target Penerimaan Pajak dan Realisasi

target dan realisasi pajak

Di tahun 2015, rasio penerimaan pajak terhadap PDB (tax ratio) diperkirakan mencapai 12,3%.[15] Angka ini merupakan yang terendah di antara negara-negara anggota G-20, maupun emerging economies lainnya. Lebih lanjut lagi, selama enam tahun belakangan, tax ratio di Indonesia hanya berada pada kisaran 11.5% dari PDB.[16] Rendahnya upaya memobilisasi pendapatan jelas membuat Indonesia tidak dapat melakukan banyak ekspansi pembangunan tanpa implikasi pembiayaan yang berasal dari utang dalam negeri maupun luar negeri.

Gambar 3. Tax Ratio di Indonesia: 1972 – 2012

Tax ratio indonesia
Sumber : Danny Darussalam Tax Center

  

Gambar 4.

Tax ratio 2007-2014
Sumber : inkrispena (Research Centre For Crisis And Alternative Development Strategy)

Catatan data tahun 2014 memakai target penerimaan pajak APBN-P 2014 sebesar Rp 1.246 triliun sedangkan realisasi penerimaan pajak tahun 2014 hanya sebesar Rp 1.143 triliun atau sekitar 91,75 persen terendah selama 25 tahun terakhir.[17] Dengan demikian diperkirakan tax ratio sekitar 12%.

Berbeda jauh dengan negara-negara yang tergabung dengan OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) dengan tax ratio mencapai 35,1%, rasio pajak di Indonesia masih berkisar 12% terhadap PDB. Persentase tersebut termasuk rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara lain. Saat ini, Indonesia termasuk dalam kategori negara berpendapatan menengah bawah dan rata-rata rasio pajak pada negara-negara sejenis adalah 19%.[18]

Gambar 5.

tax ratio dunia

Tax Buoyancy Indonesia

Diantara kinerja yang dirasa memburuk, pada dasarnya pertumbuhan penerimaan pajak justru meningkat drastis. Selama sepuluh tahun terakhir (pengecualian di tahun 2009), tax buoyancy di Indonesia menunjukkan angka yang membesar.[19] Sebagai ilustrasi, tax buoyancy di tahun 2012 sebesar 2,6. Artinya, peningkatan pertumbuhan PDB sebesar 1% dapat menciptakan pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 2,6% (lihat Gambar 6).
Gambar 6. Tax Buoyancy

Tax Buoyancy

Sumber : Danny Darussalam Tax Center

Walaupun demikian, ada baiknya jika Ditjen Pajak (dibantu BKF) dapat menelaah ulang sektor yang menjadi andalan penerimaan Pajak. Pasca krisis 1998, secara rata-rata pertumbuhan penerimaan pajak kita semakin kurang responsif terhadap pertumbuhan PDB. Hali ini menyiratkan bahwa terdapat pergeseran mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kini, sektor properti, perdagangan, pengangkutan, komunikasi, dan e-business atau sektor-sektor yang dapat digolongkan sebagai jasa semakin besar kontribusinya dan memiliki pertumbuhan yang relatif tinggi. Jangan sampai, kebijakan pajak tertinggal dan tidak mengindahkan struktur perekonomian yang mulai bergeser tersebut.

Dampak Base Erosion and Profit Shifting di Indonesia

Di Era globalisasi ini, Wajib Pajak berusaha membuat skema tertentu untuk memaksimalkan keuntungannya. Salah satu usaha yang dilakukan adalah membuat perencanaan pajak (tax planning) yang melibatkan beberapa yurisdiksi. Tentu saja, dengan fasilitas-fasilitas yang ditawarkannya, tax haven menjadi pilihan yang menarik untuk dimaksukkan ke dalam skema tax planning tersebut.

Dengan skema tax planning tertentu, penghasilan yang diperoleh Wajib Pajak di suatu negara dapat dipindahkan (profit shifting) ke negara tax haven. Perpindahan penghasilan tersebut tentu saja mengakibatkan tergerusnya dasar pemajakan suatu negara (base erosion) tempat Wajib Pajak berdomisili. Padahal, Wajib Pajak tersebut memperoleh penghasilan sekaligus menikmati barang publik dan segala fasilitas umum (yang tentunya dibiayai oleh pajak) di negara tempat dia berdomisili, namun penghasilan yang diterima justru dialihkan ke negara tax haven, sehingga dia hanya membayar pajak yang kecil (atau tidak membayar pajak sama sekali) di negara domisilinya. Dengan kata lain, Wajib Pajak tersebut menjadi free riders saja di negaranya.[20]

Suatu yurisdiksi bisa disebut tax haven atau bukan, bisa terlihat apakah yurisdiksi tersebut memiliki karakteristik-karateristik dari sebuah tax haven. Karakteristik tax haven menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) adalah[21]

  1. Memiliki tarif pajak yang rendah atau tidak ada pajak sama sekali.
  2. Tidak memiliki skema pertukaran informasi. Ini memungkinkan mereka yang memanfaatkan tax haven tidak terdeteksi oleh otoritas pajak.
  3. Tidak adanya transparansi dalam proses legislasi, proses hukum, dan administrasi dalam yurisdiksi tersebut.
  4. Tidak adanya persyaratan substansi ekonomi dalam pendirian perusahaan. Hal ini menyebabkan perusahaan didirikan untuk mendapatkan manfaat pajak saja, tanpa benar benar memiliki kegiatan bisnis.

Dari sekian banyak kriteria yang ada, terdapat dua hal utama yang dapat menggambarkan tax haven, yaitu memiliki tarif pajak rendah (tidak memungiut pajak sama sekali) dan memiliki aturan kerahasiaan informasi. Banyak negara yang sering disebut sebagai tax haven, diantaranya yang sering digunakan untuk menyembunyikan aset dan menghindari pajak adalah British Virgin Islands (BVI), Cook Islands.

Gambar 7. Tax Haven Countries

taxhaven

Sumber: Taxhaven.org

Terbongkarnya skema penghematan pajak tersebut menuai reaksi keras dari masyarakat dunia. Berbagai bentuk protes dari negara yang terkena dampak fenomena BEPS telah terjadi di berbagai belahan dunia. Bila tidak membenahi diri, bukan tidak mungkin keuntungan perusahaan-perusahaan tersebut akan terus menurun seiring dengan reputasi yang terganggu.

Investigasi atas penyalahgunaan tax haven yang mengakibatkan tergerusnya dasar pemajakan suatu negara (base erosion) tempat Wajib Pajak berdomisili, tidak mengecualikan Indonesia. Sebagaimana dijelaskan dalam tabel 3 bahwa dana ilegal yang mengalir keluar dari Indonesia mencapai USD 10,9 miliar per tahun. Sedangkan secara total hingga 2010, aset keuangan dari Indonesia berada di tax haven  dari Indonesia berjumlah USD 331 miliar. Angka-angka ini menempatkan Indonesia dalam sepuluh besar negara yang dananya paling banyak mengalir ke tax haven.

Tabel 3. Sepuluh Besar Negara dengan Rata-Rata Aliran Dana Ilegal Terbesar Tahun 2001-2010 (Dalam Miliar USD)

aliran dana ilegal

Sumber : Dev Kar dan Sarah Freitas dalam Yanuar Falak Abiyunus, Tax Haven, InsideTax Edisi 15 hal. 19 [22]
Tabel 4. Sepuluh Besar Negara dengan Jumlah Aset Keuangan Terbesar di Tax Haven Tahun 2001-2010 (Dalam Miliar USD)

aset keuangan di tax heaven

Sumber : Tax Justice Network dalam Yanuar Falak Abiyunus, Tax Haven, InsideTax Edisi 15 hal. 19 [23]

Dengan asumsi nilai tukar Rp 13.000/USD, dana ilegal dari Indonesia yang berada di tax haven kini jumlahnya Rp. 4.303 triliun, atau tiga kali lipat lebih dari penerimaan negara dalam RAPBN-P Indonesia tahun 2015 yang sebesar Rp 1.768 triliun. Jika diasumsikan bahwa sepertiga saja dari aset tersebut dapat dipajaki dan pajak dikenakan dengan tarif tertinggi untuk orang pribadi 30%, maka uang pajak yang dapat masuk ke kas negara mencapai Rp 400 triliun atau sekitar USD 307 juta. Dana tersebut dapat digunakan untuk mengentaskan kemiskinan serta penyediaan barang dan jasa publik bagi negara-negara berkembang. Sebagai ilustrasi, setiap USD 100 juta yang dapat “diselamatkan” oleh negara berkembang bisa digunakan untuk:[24]

  1. Perawatan bagi lebih dari 600.000 orang penderita HIV/AIDS.
  2. Pemberian 50-100 juta Arteminin-based Combination Therapy (ACT) untuk penyakit malaria.
  3. Imunisasi untuk empat juta anak-anak
  4. Sekitar 250.000 saluran air untuk rumah tangga
  5. Pembangunan jalan dua lajur sepanjang 240 kilometer.

Besarnya kerugian yang dialami Indonesia akibat dipindahkannya penghasilan (profit shifting) ke negara tax haven seharusnya membuat pemerintah, akademisi, konsultan pajak dan komunitas perpajakan memberikan perhatian lebih terhadap masalah ini.

Kesimpulan dan Saran

Praktik penghidaran pajak tersebut dilakukan dengan memanfaatkan peluang-peluang (loopholes) yang terdapat dalam ketentuan perpajakan yang berlaku. Dengan skema aggressive tax planning, penghasilan yang diperoleh Wajib Pajak di suatu negara dapat dipindahkan (profit shifting) ke negara tax haven. Perpindahan penghasilan tersebut tentu saja mengakibatkan tergerusnya dasar pemajakan suatu negara (base erosion) tempat Wajib Pajak berdomisili. Tergerusnya penerimaan pajak akibat praktik penghindaran pajak menjadi salah satu penyebab sulitnya pemerintah untuk mencapai target penerimaan pajak setiap tahunnya sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat. Untuk itu saran yang diberikan untuk memperbaiki kelemahan-kelamahan yang ada adalah sebagai berikut:

  1. Penyempurnaan ketentuan penangkal praktik penghindahan pajak (tax avoidance) seperti:(1) Penyempurnaan ketentuan pasal 18 Undang Undang Pajak Penghasilan sebagai Specific Anti Tax Avoidance Rules (SAAR) dan dibuat lebih jelas dan rinci. (2) Pembuatan General Anti Avoidance Rule sebagai upaya mencegah transaksi yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang semata-mata untuk tujuan penghindaran pajak atau transaksi yang tidak mempunyai substansi bisnis.
  2. Meningkatkan kegiatan pertukaran informasi (exchange of information) khususnya dengan pihak eksternal DJP baik domestik maupun internasional.
  3. Mentransformasi lembaga otoritas pajak menjadi sebuah lembaga yang semi-otonom atau dikenal dengan SARA (Semi-Autonomous Revenue Authority), sebagai upaya pencapaian penerimaan pajak.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adri A. L. Poesoro dan B. Bawono Kristiaji, 2014. Target Pajak Tahun 2014, Realistiskah? InsideTax, Edisi 18.

Dev kar dan Sarah Freitas, Illicit Financial Flows From Developing Countries: 2001-2010 (Global Financial Integrity, 2012)

Haula Rosdiana, Edi Slamet Irianto. 2012. Pengantar Ilmu Pajak, Kebijakan dan Implementasi di Indonesia, Jakarta: RajaGrafindo Persada.

OECD, Harmfull Tax  Competion: An Emerging Global Issue (Paris: OECD Publications, 1998)

Tax Justice Network. 2012. The Price of Offshore Revisited (July 2012)

The World Bank. 2007. Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative: Challenges, Opportunities, and Action Plan.

Yanuar Falak Abiyunus, 2014.  Tax Haven, InsideTax, Edisi 15.

A World Bank Group Flagship Report. Global Economic Prospect (Having Fiscal Space and Using It), January 2015. Chapter 1, pg.3. Dapat diakses di www.worldbank.org/globaloutlook

Widi Widodo, Harmful Tax Competition dan Keterbukaan Informasi Wajib Pajak. Dapat diakses di http://ektensifikasi423.blogspot.com/2014/11/harmful-tax-competition-dan-keterbukaan.html

http://www.worldbank.org/in/news/press-release/2015/01/13/global-economic-prospects-improve-2015-divergent-trends-pose-downside-risks

http://www.tempo.co/read/news/2014/08/21/087601383/Tax-Ratio-Dinilai-Kurang-Ini-Jawaban-Chatib-Basri

http://m.okezone.com/read/2015/01/14/20/1092108/penerimaan-pajak-2014-terendah-selama-25-tahun

Inkrispena (Research Centre For Crisis And Alternative Development Strategy)

International Monetary Fund, World Economic Outlook Database (October 2012).

http://www.monitoryday.com

http://www.TaxHaven.org

[1] http://www.worldbank.org/in/news/press-release/2015/01/13/global-economic-prospects-improve-2015-divergent-trends-pose-downside-risks

[2] A World Bank Group Flagship Report. Global Economic Prospect (Having Fiscal Space and Using It), January 2015. Chapter 1, pg.3. Dapat diakses di http://www.worldbank.org/globaloutlook

[3] Press release Global Economic Prospects Op.Cit

[4] Ibid

[5] A World Bank Group Flagship Report, Op.Cit pg.3

[6] Press release Global Economic Prospects Op.Cit

[7] Ibid

[8] A World Bank Group Flagship Report, Op.Cit pg.157

[9] Press release Global Economic Prospects Op.Cit

[10] http://www.monitoryday.com

[11]http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/03/16/201331826/Pengamat.Pertanyakan.Paket.Kebijakan.Ekonomi.Jokowi. diakses tgl 15 April 2015 pukul 13.20

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Haula Rosdiana, Edi Slamet Irianto. Pengantar Ilmu Pajak, Kebijakan dan Implementasi di Indonesia, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012, hal. 50

[15] http://www.tempo.co/read/news/2014/08/21/087601383/Tax-Ratio-Dinilai-Kurang-Ini-Jawaban-Chatib-Basri

[16] Adri A. L. Poesoro dan B. Bawono Kristiaji, Target Pajak Tahun 2014, Realistiskah? InsideTax, 2014 Edisi 18 hal. 12

[17] http://m.okezone.com/read/2015/01/14/20/1092108/penerimaan-pajak-2014-terendah-selama-25-tahun

[18] Widi Widodo, Harmful Tax Competition dan Keterbukaan Informasi Wajib Pajak. Dapat diakses di http://ektensifikasi423.blogspot.com/2014/11/harmful-tax-competition-dan-keterbukaan.html

[19] Tax buoyancy dapat dipahami sebagai indikator yang dapat mengukur seberapa responsif pertumbuhan penerimaan pajak terhadap aktivitas ekonomi (Pertumbuhan PDB)

[20] Yanuar Falak Abiyunus, Tax Haven, InsideTax Edisi 15 hal. 20

[21] OECD, Harmfull Tax  Competion: An Emerging Global Issue (Paris: OECD Publications, 1998)  23

[22] Lebih lanjut baca Dev kar dan Sarah Freitas, Illicit Financial Flows From Developing Countries: 2001-2010 (Global Financial Integrity, 2012)

[23] Lebih lanjut baca Tax Justice Network. 2012. The Price of Offshore Revisited (July 2012)

[24] Angka-angka tersebut dihitung berdasarkan standar biaya regional Afrika. Selengkapnya, Lihat Laporan dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan The World Bank yang berjudul Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative: Challenges, Opportunities, and Action Plan, 2007)

Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Perpajakan dan Launching IFTAA Jatim

22 April 2015 @ Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya

Disusun oleh

1. Dr. Kadarisman Hidayat, M.Si

2. Damas Dwi Anggoro, S.AB, M.A.


Rizqi dan Ikhtiar

Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu. Tapi rizqimu tahu di mana engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.

Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.

Tugas kita bukan mengkhawatiri rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban “Dari Mana” & “Untuk Apa” atas tiap karunia.

Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya mati.

Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.

Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat & berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.

Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki bayinya? Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan.

Ia kejutan tuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugasnya cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.

Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalanNya, “Buat apa?”

Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab & haramnya akan di’adzab.

Banyak yang mencampakkan keikhlasan ‘amal demi tambahan harta, plus dibumbui kata tuk bantu sesama; lupa bahwa ‘ibadah apapun semata atas pertolonganNya.

Dengan itu kita mohon “Ihdinash Shirathal Mustaqim”; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat.

Maka segala puji bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah menjadi sempurna semua kebajikan.

Ya Allah mudahkanlah kami dalam mensyukuri karuniaMU..
Istiqomahkan kami dalam taat padaMU..
Matikanlah kami dalam keadaan ridho dan diridhoi..
Amiin…

Sumber Anonim


Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

21 Juni 1970 lalu, Bung Karno meninggal n berwasiat di atas batu kecil (nisannya) tulislah “Di sini beristirahat Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”

View on Path


Seorang anak yang lahir ketika Ibunya sudah wafat

Telah datang seorang lelaki kepada Amiril mukmin (pemimpin orang beriman) Umar bin Khattab semoga Allah meridhoinya, dan lelaki tersebut datang bersama anaknya. Dan tidak ada perbedaan antara seorang ayah dengan anaknya, maka Umar terkagum seraya berkata “Demi Allah aku belum pernah melihat hal yang paling aneh seperti hari ini! Tidaklah seseorang mirip dengan orang lain seperti kau dan anakmu kecuali miripnya burung gagak dengan gagak lainnya.”

-dan bangsa arab menyebutkan dipepatah mereka bahwa burung gagak sangat mirip dengan sesama jenisnya-

Maka pria tersebut berkata kepada Umar: “wahai amirul mukminin! Bagaimana sekiranya kalau engkau tahu bahwa ibu anak ini melahirkannya setelah ia wafat.”

Maka Umar r.a pun merubah posisi duduknya dan berubah pula keadaannya, dan beliau menyukai kisah-kisah unik dan ajaib. Kemudian Umar berkata: “Ceritakan kepadaku!!”

Pria itu pun berkata: “wahai amirul mukminin!! Dulunya istriku, ibu dari anak ini sedang hamil, kemudian aku hendak bepergian jauh akan tetapi ia melarangku, hingga aku sampai didepan pintu ia tetap memaksaku agar tidak pergi. ia berkata: ‘bagaimana kau ingin meninggalkan ku sedangkan aku sedang hamil’ maka aku letakkan tanganku diatas perutnya seraya berkata ‘Ya Allah, aku titipkan anakku ini pada-Mu’ kemudian aku pergi.

-dan renungkanlah, bahwa dengan takdir Allah, ia tidak berkata kutitipkan juga ibunya-

“Aku pun keluar rumah dan kemudian ku habiskan waktu yang lama untuk bepergian jauh.” Dan ketika aku pulang kerumah, pintu dalam keadaan terkunci sepupu-sepupuku pun mengelilingiku, seraya memberi kabar bahwa istriku sudah wafat maka kuucapkan “sesungguhnya kami semua milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.” Kemudian mereka membawaku untuk makan malam yang telah mereka siapkan untukku dan ketika aku sedang makan, tiba-tiba keluar asap dari area pemakaman. Aku berkata ‘asap apa ini?’

Mereka berkata ‘ini asap keluar dari makam istrimu setiap malam sejak kami makamkan’

Maka lelaki tersebut berkata “Demi Allah, aku adalah salah satu makhluq Allah yang paling mengenalnya, dia semasa hidupnya banyak berpuasa, selalu shalat malam, senantiasa menjaga kehormatannya, tidak membenarkan kemungkaran dan menyuruh kepada kebaikan, maka Allah tidak akan menghinakannya.”

-kemudian lelaki tersebut berdiri menuju pemakaman dan diikuti sepupu-sepupunya-

Ia berkata “dan ketika aku sudah sampai dimakamnya wahai amirul mukminin, aku pun mulai menggali, sampai aku melihatnya, adapun kondinya, sesosok mayat dalam posisi duduk dan anaknya bersamaku ini hidup dibawah kakinya.

Dan tiba-tiba aku mendengar seseorang menyeru: ‘wahai orang yang menitipkan kepada Allah sebuah titipan, ambilah titipanmu!’

–para ulama berkata: andai saja ia menitipkan juga si ibu kepada Allah niscaya ia kan mendapatinya sebagaimana ia titipkan. Akan tetapi agar berjalannya takdir Allah, maka Allah tidak mengizinkan lisannya untuk menitipkan sang ibu–

“Ya Allah, kami menitipkan kepadaMu agama kami wahai Tuhan semesta alam dan anugerahilah kami keteguhan pada agama ini hingga kami bertemu denganMu kelak”

Written by http://www.khadem.islam.blogspot.com @Khadem_elislam


Sebuah Do’a

Sahabat Anas bin Malik pernah berkata, “saya cinta kepada Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar, dan saya berharap bisa bersama mereka karena kecintaan ku ini, walau tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Saya pun berdo’a, “saya cinta kepada Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar, Usman, Ali, Anas dan saya berharap bisa bersama mereka karena kecintaan ku ini, walau tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Jakarta 12 Maret 2014


Cinta tak pandang usia

Jika cinta itu karenaMu Ya Rabb, biarlah ia tumbuh bersemi sampai raga ini berpisah dengan ruhnya😀

View on Path


Belajar dari Muawiyah bin Yazid

Ketika di akhir hayat Muawiyah bin Yazid r.a diminta untuk menunjuk penggatinya untuk menjadi pemimpin kaum muslimin, muawiyah berkata “Bagaimana saya menunjuk seseorang, padahal waktu saya masih hidup saja saya tidak mau dengan jabatan ini lalu bagaimana saya menanggung jabatan ini setelah saya meninggal.”

Apa maksudnya
Bahwa seseorang yang kita tunjuk itu adalah tanggung jawab kita dihadapan Allah, ketika kita menunjuk seseorang kita akan mengamanahi dan ibarat hari ini kita mengamanahkan suara kita, jangan dipikir tidak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah swt.

Seperti Muawiyah,
amanah yang kita berikan kepada orang itu. Nanti baik buruknya orang itu, maka kita akan bertanggung jawab dihadapan Allah. Muawiyah sewaktu masih hidup pun sebenarnya tidak mau atas jabatan khalifah, lalu bagaimana muawiyah mau menanggung masalah orang itu sepeninggal muawiyah.

sumber youtube, khalifah Muawiyah bin Yazid r.a


Bersin dapat istri

Kisah Paman kami KH AL-Ny. Hj. SNA, Kedunglumpang, Salaman, Magelang.

Dalam sebuah perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta, tahun 1980-an; pemuda itu bersin di kursinya. Diapun bertahmid, “AlhamduliLlah.”

Dari seberang tempat duduknya terdengar suara lirih namun tegas, “YarhamukaLlah.”

Maka diapun menjawab, “YahdikumuLlah, wa yushlihu baalakum”, lalu menoleh. Yang dia lihat adalah jilbab putih, yang wajahnya menghadap ke jendela.

Ini tahun 1980-an. Jilbab adalah permata firdaus di gersangnya dakwah. Dan ucapan “YarhamukaLlah” adalah ilmu yang langka. Keduanya terasa surgawi.

Maka bergegas, disobeknya kertas dari buku agenda & diambilnya pena dari tasnya. Disodorkannya pada muslimah itu. “Dik”, ujarnya, “Tolong tulis nama Bapak Anda & alamat lengkapnya.”

Gadis itu terkejut. “Buat apa?”, tanyanya dengan wajah pias lagi khawatir.

“Saya ingin menyambung ukhuwah & thalabul ‘ilmi kepada beliau”, ujar sang pemuda. “Amat bersyukur jika bisa belajar dari beliau bagaimana mendidik putra-putri jadi Shalih & Shalihah.”

Masih ragu, gadis itupun menuliskan sebuah nama & alamat.

“Kalau ada denahnya lebih baik”, sergah si pemuda.

Beberapa hari kemudian, pemuda itu mendatangi alamat yang tertulis di kertas. Diketuk pintunya, dia ucapkan salam. Seorang bapak berwajah teduh & bersahaja menyambutnya.

Setelah disilakan duduk, sang bapak bertanya, “Anak ini siapa & ada perlu apa?”

Dia perkenalkan dirinya, lalu dia berkata, “Maksud saya kemari; pertama nawaituz ziyarah libina-il ukhuwah. Saya ingin, semoga dapat bersaudara dengan orang-orang Shalih sampai ke surga.”

“Yang kedua”, sambungnya, “Niat saya adalah thalabul ‘ilmi. Semoga saya dapat belajar pada Bapak bagaimana mendidik anak jadi Shalih dan Shalihah.”

“Yang ketiga”, di kalimat ini dia agak gemetar, “Jika memungkinkan bagi saya belajar langsung tentang itu di bawah bimbingan Bapak dengan menjadi bagian keluarga ini, saya sangat bersyukur. Maka dengan ini, saya beranikan diri melamar putri Bapak.”

“Lho Nak”, ujar si Bapak, “Putri saya yang mana yang mau Anak lamar? Anak perempuan saya jumlahnya ada 5 itu?”

“BismiLlah. Saya serahkan pada Bapak, mana yang Bapak ridhakan untuk saya. Saya serahkan urusan ini kepada Allah dan kepada Bapak. Sebab saya yakin, husnuzhzhan saya, bapak sebagai orang Shalih, juga memiliki putri-putri yang semua Shalihah.”

“Lho ya jangan begitu. Lha anak saya yang sudah Anda kenal yang mana?”

“Belum ada Pak”, pemuda itu nyengir.

Orangtua itu geleng-geleng kepala sambil tersenyum bijak.

“Sebentar Nak”, kata si Bapak, “Lha Anda bisa sampai ke sini, tiba-tiba melamar anak saya itu ceritanya bagaimana?”

Pemuda itupun menceritakan kisah perjumpaannya dengan putri sang Bapak di Kereta. Lengkap dan gamblang.

Sang bapak mengangguk-angguk. “Ya kalau begitu”, ujar beliau, “Karena yang sudah Anda nazhar (lihat) adalah anak saya yang itu; bagaimana kalau saya tanyakan padanya kesanggupannya; apakah anak juga ridha padanya?”

Pemuda itu mengangguk dengan tersipu malu.

Singkat cerita, hari itu juga mereka diakadkan, dengan memanggil tetangga kanan-kiri tuk jadi saksi. Maharnya? Pena yang dipakai pemuda itu meminta alamat sang Bapak pada gadis di kereta yang akhirnya jadi isterinya, ditambah beberapa lembar rupiah yang ada di dompetnya.

Hingga kini mereka dikaruniai 6 putra-putri. Satu putra telah wafat karena sakit setelah mengkhatamkan hafalan Qurannya. Lima yang lain, semua juga menjadi para pemikul Al Quran.

Pasangan yang tak lagi muda itu, masih suka saling menggoda hingga kini. Itu tak lain, karena sang suami memang berpembawaan lucu.

“Salim”, ujarnya pada suatu hari, “Bibi’mu ini lho, cuma saya bersin-i saja jadi istri. Lha coba kalau saya batuk, jadi apa dia!”

Saya terkekeh. Dan lebih terbahak ketika ‘ saya itu mencubit perut samping suaminya. “Kalau batuk”, ujar Hafizhah Qiraat Sab’ah ini, ingin bercanda tapi tak dapat menahan tawanya sendiri, “Mungkin beliau jadi sopir saya!”

Ya Allah; jagalah mereka, sebab mereka menjaga KitabMu di sebuah pesantren sederhana di pelosok negeri ini.

Kisah nyata ust. Salim A. Fillah


Taddabur QS. Al Kahfi

Al-Kahfi dijadikan sunnah untuk dibaca tiap jum’at agar umat minimal setiap hari raya pekanan mengingat betapa Allah mengagungkan karakter pemberani bagi para pemudanya.

Merupakan isyarat untuk do’a mendo’akan agar selalu terbentuk generasi yang saat menghadapi rezim kezhaliman kita menjadi pemuda berani (kisah Ashabul Kahfi), kemudian saat menjadi pemimpin negeri kita dapat menjadi negarawan amanah dan kompeten dalam mengelola peradaban (layaknya DzulQarnain).

Ini isyarat pula, kala timbul di zaman kita tiran seperti dihadapi pemuda Kahfi, pasti akan timbul pula para pemuda yang bersikap seperti kisah “Ashabul Kahfi”. Maka seiring dengan hadirnya eksistensi pemerintahan tiranik, maka akan selalu ada pula entitas pemuda yang sedia menghadapinya dan bertahan dalam iman, meski minoritas dan tercengkram tiran.

Bagaimana keberanian “Ashabul Kahfi” menerangkan kebenaran akan menimbulkan simpatik dan menanamkan keimanan yang tumbuh di hati orang-orang yang kagum.

Dan bagaimana keadilan “Dzulqarnain” memudahkannya untuk menundukan segala yang sulit, menciptakan keseimbangan, kemajuan, kesejahteraan dan keamanan dunia.

Semua itu pesan agar manusia sadar hakekat penciptaannya (sbg khalifah di muka bumi). Mereka bernilai, dikenang dalam sejarah dan bahkan diabadikan didalam Al-Qur’an karena mereka mampu mempertahankan agamanya. Tetapi jika ia melepaskannya, maka mereka akan kehilangan derajatnya, mereka tidak akan tercatat dalam sejarah dan bahkan tidak mungkin diabadikan di dalam Al Qur’an sebagai orang yang shaleh.

Sumber: Buku Renovani Negeri Madani dengan diolah penulis


Book of Life

Write Your Own Story

Meilisa-Rosyadi

duniaku, duniamu . dunia kita :D

Taufiq_Qipot NgeBlog

" Ajarilah Anakmu Sastra! Agar ia menjadi Pemberani "

berhenti sejenak

Just another abu faqih's weblog